Ketahui Kunci Menghindari Kekerasan Terhadap Anak

Peringatan Hari Anak Nasional 2016 yang jatuh pada 23 Juli kemarin mendapat perhatian yang cukup serius oleh berbagai pihak terutama menyuarakan anti kekerasan terhadap anak. Salah satunya digagas oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) yang menggelar gerakan antikekerasan terhadap anak yang dimulai dari rumah. (more…)

Save and Help Children

Setiap Bangsa tentunya memiliki impian atau cita-cita, itu terlihat ketika setiap Negara berusaha untuk mensejaterahkan rakyatnya. Begitu juga dengan Indonesia, Negara yang kaya akan keragaman ini, tentunya tetap berusaha untuk menjadi Negara yang maju. Dalam beberapa hal, Indonesia sempat dianggap sukses khususnya di wilayah Asia dan Pasifik. Indonesia telah mengalami perubahan besar di bidang politik, sosial, dan ekonomi dalam 15 tahun terakhir. Akan tetapi meski demikian, bukan berarti Indonesia lepas dari berbagai masalah. Pasalnya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyebutkan ada kenaikan jumlah pengaduan kekerasan dan keterlibatan anak terhadap masalah hukum sebesar 15 persen pada tahun 2016.

Selain itu, usia yang masih terbilang muda, terkadang memaksa sebagian anak harus berjuang melawan arus kuat kehidupan di kota urban seperti halnya Jakarta. Mereka seolah dituntut untuk mengasilkan uang, di tengah kurangnya pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki, bahkan tidak jarang pula kekerasan turut di dalamnya. Berbicara soal kekerasan, tema Hari Anak Nasional (HAN) 2016 adalah “Akhiri Kekerasan pada Anak”. Tema ini diangkat, mengingat banyaknya kasus kekerasan yang dialami oleh sebagian anak di Indonesia. Dilansir unicef.org

  • 40 persen anak berusia 13-15 tahun melaporkan pernah diserang secara fisik sedikitnya satu kali dalam setahun.
  • 26 persen melaporkan pernah mendapat hukuman fisik dari orang tua atau pengasuh di rumah.
  • 50 persen anak melaporkan di-bully di sekolah.
  • 45 persen perempuan dan anak perempuan di Indonesia percaya bahwa suami/pasangan boleh memukul istri/pasangannya dalam situasi-situasi tertentu.

Kekerasan terhadap anak adalah krisis senyap di Indonesia dan hanya akan berhenti jika kita semua orang tua, guru, pemuka masyarakat, pemerintah bekerja sama dan melindungi semua anak, seolah seperti mereka anak kita sendiri. Jika diperlukan satu desa untuk membesarkan anak, maka diperlukan juga satu desa untuk melindungi anak.- Tutur Ibu Gunilla selaku Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia.

Disamping hal itu, ada beberapa faktor yang menyebabkan banyak anak senantiasa berhadapan dengan hukum. salah satu faktor tersebut adalah faktor keluarga yang kurang perhatian terhadap anak, lingkungan, dan teknologi. Apalagi sekarang banyak orang tua yang kurang baik dan intens berkomunikasi dengan anak mereka.-Tutur Asrorun Ni’am Sholeh selaku Ketua KPAI. Melalui hal ini kita juga seolah diingatkan untuk lebih memperhatikan anak-anak kita, terlepas dari perbedaan, ras, agama, suku dan sebagainya. vk

Kesehatan Jiwa & Hak Dasar Anak

Seorang psikiater, Dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ, pernah mengatakan bahwa tidak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa. Memahami lebih baik kesehatan jiwa membuat hidup jadi lebih menyenangkan. Nah, sama seperti kesehatan fisik, maka kita (baca: orangtua) juga wajib memperhatikan kesehatan jiwa anak-anak kita. (more…)