Tulus Abadi : Iklan Zat Adiktif Tidak Layak!
Posted on: June 16, 2017, by : Eka Prasetya

Negara Indonesia merupakan negara primitif dalam konteks periklanan rokok. Nyatanya dari 144 negara yang telah melarang iklan rokok berada di penyiaran, hanya Indonesia yang masih memperbolehkan penayangan iklan rokok di media.  Sebagai contoh, negara Eropa sudah melarang beredarnya iklan rokok sejak tahun 60-an. Lalu di Amerika sudah dilarang sejak tahun 73.

Hal tersebut membuat dunia penyiaran  Indonesia buruk di mata internasional. Dikhawatirkan hal ini sebagai dampak adanya permainan belakang, yang dilakukan antara media dengan pengiklan. Media masih beranggapan bahwa iklan rokok merupakan income terbesar untuk media, “Nyatanya hal tersebut salah,” demikian kata Tulus Abadi, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. “Sudah digantikan dengan iklan telekomunikatif yang lain,” tambahnya lagi menjelaskan.

Tulus menduga dihilangkannya rencana Rancangan Undang-Undang Penyiaran tentang pelarangan iklan rokok karena adanya money politic, berkaitan dengan pasal periklanan rokok. Selain itu rokok adalah zat adiktif yang mampu membuat konsumennya ketergantungan setelah mengonsumsinya. “Seharusnya penggunaan zat adiktif tersebut dibatasi atau dihilangkan,” ungkap Tulus. “Karena tidak layak untuk diiklankan,” tegasnya. Hal tersebutlah yang seharusnya menjadi dasar media elektronik melarang tegas iklan rokok dalam penyiarannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *