Merangsang Kasih Sayang, Meredam Depresi
Posted on: May 18, 2017, by : Rikardo Marbun

Perempuan hamil tak selamanya diliputi euforia seperti di masa-masa awal mengetahui akan mendapatkan keturunan yang diidam-idamkan. Di tengah proses yang panjang selama sembilan bulan, ada saja kesusahan hati yang melanda hingga berujung depresi. Bidan, sosok yang banyak berinteraksi dengan ibu hamil di samping dokter spesialis kandungan punya peran besar meredam depresi ini.

Bidan Cesa Septiana Pratiwi mengatakan bidan di masa kini perlu belajar banyak lagi bagaimana merangsang perasaan kasih sayang (compassion) pada ibu yang sedang hamil atau pascamelahirkan. “Berikan pertanyaan-pertanyaan yang bisa mengungkapkan rasa kasih sayang pada ibu hamil. Karena yang paling dibutuhkan seorang ibu hamil dari tenaga kesehatan adalah cinta kasih,” kata Cesa, yang saat ini menempuh studi Ilmu Kebidanan di Leeds, Inggris.

Persoalannya, kata Cesa, dikarenakan kepadatan tugas bidan saat menangani ibu hamil mengakibatkan informasi-informasi yang penting untuk digali dari seorang ibu yang kemungkinan mengalami depresi menjadi tidak terungkap. Misalnya, langsung bertanya perihal riwayat anggota keluarga yang lain yang disebut kemungkinan mempengaruhi keadaannya.

“Ibu itu sebenarnya butuh bantuan tetapi tidak serta-merta menyampaikannya. Misalnya karena hamil di luar nikah atau kehamilan yang tidak direncanakan,” imbuh Cesa, yang juga dosenĀ Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.

Belajar dari penanganan kesehatan mental pada ibu hamil bahkan yang telah melahirkan dengan membesarkan anak usia 3-5 tahun di Inggris, pertanyaan-pertanyaan yang merangsang kasih sayang harus terus digali.

“Semua ibu hamil sampai ibu balita, kalau ketemu tenaga kesehatan selalu akan ditanyakan terkait kesehatan mental, ada atau tidak rasa kehilangan atau ketiadaan akan rasa ketertarikan pada sesuatu. Atau merasa terganggu nggak dengan perasaan tertekan atau keputusasaan,” jelas Cesa.

Lalu dari jawaban-jawaban yang disampaikan ibu hamil kepada bidan akan menjadi pintu awal membuka deteksi apakah ibu hamil yang ditanganinya perlu bantuan tenaga ahli kesehatan jiwa seperti psikolog atau psikiater. “Berikan pertanyaan sederhana dan sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja,” kata Cesa. (rik)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *