Menkes Tegaskan Rokok Ancaman Serius Kesehatan Indonesia
Posted on: May 17, 2017, by : Daniel Tanamal

Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Djuwita Moeloek menegaskan bahwa melalui fakta dari data dan penelitian mengenai dampak rokok, dapat dikatakan bahwa saat ini rokok menjadi ancaman serius untuk kesehatan di Indonesia.

Hal itu dikatakannya saat membuka Konferensi Indonesia untuk Tembakau atau Kesehatan (ICTOH) ke-4 di Jakarta, Senin (15/5/2017). Nila memuat data dari BPJS Kesehatan yang memperlihatkan bahwa biaya untuk penyakit jantung dan pembuluh darah mencapai 7 triliun. “Kasus penyakit tidak menular yang salah satunya disebabkan rokok adalah ancaman serius bagi keberlangsungan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Menurut Direktur BPJS Kesehatan, angka biayanya sampai Rp7,4 triliun,” katanya.

Dengan data dimana sepertiga penduduk atau 36,3% merupakan perokok, dan 20% remaja usia 13 hingga 15 tahun adalah perokok, Nila menyatakan bahwa saat ini epidemi konsumsi rokok di Indonesia telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Bahkan, selain mengancam program JKN, penyakit tidak menular dan konsumsi tembakau juga mengancam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Untuk itulah, dirinya menyebut penanggulangan penyakit tidak menular dan pengendalian konsumsi rokok menjadi salah satu upaya untuk mencapai tujuan pembangunan tersebut.

Selaras dengan hal itu, Ketua Tobacco Control Support Center Sumarjati Arjoso menambahkan, jika tembakau tidak hanya akan mengancam generasi sekarang, tapi juga generasi depan. Karena itu jika tidak dikendalikan dari sekarang, maka akan generasi dimasa mendatang akan mengkhawatirkan.“Jika tembakau tidak dikendalikan, kita tidak akan mendapatkan bonus demografi yang sehat dan produktif.”

Menurut data WHO, Indonesia adalah pasar rokok tertinggi ketiga di dunia setelah China dan India. Prevalensi perokok Laki-laki dewasa di Indonesia bahkan yang paling tinggi (68,8%) di dunia. Faktanya saat ini, rokok merupakan faktor risiko utama terjadinya penyakit tidak menular (PTM) seperti kanker, penyakit jantung dan pembuluh darah, serta penyakit paru obstruktif kronis, dan sangat berkaitan dengan perilaku merokok.

Sampai sejauh ini, kebiasaan merokok di Indonesia telah membunuh setidaknya 235.000 jiwa setiap tahunnya dan memicu penyakit-penyakit yang memerlukan biaya pengobatan cukup besar. Hal inilah yang membuat  banyak pihak mengkhawatirkan kasus PTM dapat menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan JKN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *